Artikel

Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

Setiap orang pasti memiliki mimpi di dalam hidupnya, termasuk Anda dan saya sekarang ini. Sebagian orang mengatakan mimpi ini sebagai cita-cita.

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan mimpi dan cita-cita, karena dulu saat sekolah kita sering ditanyai oleh guru apa cita-cita kita.

Pertanyaan yang diajukan guru umumnya tentang kita ingin menjadi apa di masa depan (profesi). Jawabannya pun beragam mulai dari ingin menjadi polisi, bidan, astronot, dokter dan lain-lain.

Saat kita beranjak dewasa, semakin luaslah pemikiran kita. Mulai banyak muncul keinginan - keinginan yang ingin dicapai. Sayangnya alam sadar kita ini menganggap mimpi-mimpi itu sebagai angi lalu saja, dan enggan untuk diusahakan.

Jadi, seakan - akan mimpi itu sekedar mampir lalu dilupakan, lalu muncul keinginan baru lagi, lalu tetap didiamkan saja dan kemudian dilupakan lagi. Begitu seterusnya...

Saya pun demikian, ada banyak keinginan yang sampai saat ini belum saya usahakan sama sekali. Sekarang saya sadar betul akan kesalahan ini dan mulai mencari tahu apa penyebabnya.

Dan ternyata, penyebabnya adalah kurangnya motivasi...


Bagaimana cara memunculkan motivasi?

Sejauh ini saya hanya tahu satu cara, itu pun baru saya sadari belum lama ini. Nah, apabila Anda tahu cara lain, saya harap anda mau berbagi pengalaman melalui panel komentar di bawah, agar para pembaca yang lain dapat belajar melalui pengalaman Anda.

Satu cara itu adalah...

Yaitu dengan memiliki alasan yang dapat dikaitkan atau dihubungkan dengan rasa emosi di hati kita. Emosi ini bisa bermacam-macam perasaan, mulai dari rasa sedih, bahagia, marah, maupun rasa malu.

Kalau kita memiliki alasan yang berhubungan dengan perasaan, maka itu akan menjadi motivasi untuk memperjuangkan mimpi yang kita punya. Semakin kuat hubungannya maka semakin menggebu-gebu motivasinya, semangat 45-lah pokoknya!




Hmm, masih bingungkah Anda? Oke saya beri contoh.

Ada seorang anak yang ingin menjadi dokter, namun ia hanya sekedar ingin saja dan tidak memperjuangkannya. Sehingga, di akhir dia memiliki profesi yang jauh dari dunia kedokteran.

Kemudian ada seorang anak lagi, dia memiliki cita-cita yang sama dengan anak sebelumnya di atas, yaitu menjadi dokter. Alasan ingin menjadi dokter adalah karena ia suka membantu orang lain dan ingin membuat orang tuanya bangga.

Akhirnya dengan kedua alasan itu, dia gigih dalam memperjuangkan mimpinya dan akhirnya ia benar-benar menjadi seorang dokter.

Dari kedua contoh di atas, saya harap Anda sudah mulai paham tentang alasan kuat untuk meraih mimpi. Pada kasus anak kedua itu, dia benar-benar mengaitkan mimpinya pada orangtua dan passionnya, sehingga ia merasa butuh untuk merealisasikan harapannya.

Berbeda dengan anak pertama yang sekedar ingin menjadi dokter saja. Ia tidak punya alasan yang kuat, sehingga besar kemungkinannya ia tidak mendapatkan apa yang dia cita-citakan.

Kalau kita berbicara tentang alasan, ini ada banyak sekali. Untuk menjadi dokter saja pada tiap orang akan berbeda-beda alasannya. Tapi yang terpenting adalah seberapa kuat alasan itu.

Ini contoh beberapa alasan kuat untuk menjadi dokter :
  1. Kedua orangtua saya adalah dokter, maka saya akan sangat malu kalau tidak berhasil menjadi dokter. Saya akan berjuang agar seperti kedua orangtua saya.
  2. Saya dari keluarga miskin dan sering dihina oleh para tetangga. Maka, saya akan berjuang untuk menjadi dokter untuk mengangkat derajat orangtua saya.
  3. Dokter itu uangnya banyak dan keren, jadi saya harus jadi dokter agar hidup saya nyaman.
  4. Ada banyak sekali orang sakit yang tidak dapat perawatan medis di kampung saya. Maka, saya harus menjadi dokter untuk membantu mereka.
  5. Saya sangat mencintai si A dan saya tahu si A sangat suka sekali dengan dokter. Maka, saya harus menjadi dokter untuk mendapatkan hatinya.
  6. dan masih banyak lagi..
Beberapa poin di atas itu adalah alasan-alasan yang dapat menjadi motivasi untuk menjadi seorang dokter. Entah baik atau buruk alasannya itu tergantung kita yang memposisikan alasan tersebut menjadi sebuah motivasi yang kuat.

Nah, bagaimana kalau memiliki alasan lebih dari satu?

Kalau itu tentu bagus sekali, asalkan alasan-alasan itu memang membuat motivasi kita semakin kuat. Tapi jangan sampai kalau kita mempunyai banyak alasan, tapi tidak menimbulkan motivasi sama sekali, itu jelas alasannya ya sangat lemah.

Oiya, mohon diingat kalau cita-cita itu tidak sekedar tentang profesi. Mimpi itu sangatlah luas, karena keinginan manusia juga sangat banyak. Kita harus mulai membuang mindset tentang cita-cita yang berpaku pada profesi semata.

Berikut contoh cita-cita lain, selain profesi :
  1. Ingin menghajikan orangtua
  2. Ingin memiliki rumah luas di kampung halaman
  3. Ingin menikah dengan pasangan idaman
  4. Ingin memiliki anak yang sholeh dan sholehah
  5. dan lain lain
Poin di atas juga sama derajatnya dengan cita-cita pada profesi. Semua mimpi itu perlu alasan yang kuat untuk dapat memotivasi diri meraih itu semua.

Sekarang tugas kita tinggal mengingat kembali apa mimpi-mimpi kita selama ini dan carilah alasan yang kuat yang menyangkut keinginan itu.


Mulai melangkah mewujudkan mimpi

Apabila kita sudah memiliki mimpi berserta alasannya, sekarang mari kita mulai merealisasikannya. Di sini saya akan share beberapa langkah yang dapat Anda coba untuk lebih memantapkan perjalanan menuju tujuan cita-cita.

 (1) Membuat daftar apa saja yang penting / prioritas dalam hidup kita 
Poin pertama ini sudah kita bahas, ini tentang mencari alasan yang kuat. Nah, sekarang kita tulis dulu apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita. Tiap orang tentu berbeda-beda, jadi hanya Anda dan Tuhan yang tahu apa yang penting menurut Anda.



Pastikan hal-hal itu memiliki hubungan yang kuat dengan emosi / perasaan Anda. Semakin kuat maka semakin bagus. Misal : orangtua, keluarga, jabatan, harga diri, dan lain-lain.


 (2) Ingat mimpi yang ingin dicapai 
Mimpi kita tentu ada banyak sekali, tapi itu wajar saja sebagai manusia. Namun, mulai sekarang mulai pilih mimpi yang ingin difokuskan dan diprioritaskan. Fungsinya agar kita dapat lebih fokus.

Lebih bagus lagi kalau kita memang sudah meng-filter mimpi yang sudah punya alasan kuat pada poin satu.

 (3) Melihat diri kita di masa depan 

Kita harus bisa membayangkan diri kita di masa depan yang sudah meraih mimpi itu. Ini mungkin gampangnya kita sebagai melamun yang terarah. Jadi, bayangkan kita sudah mendapatkan apa yang kita mau.

Konsep ini adalah LOA Law of Attraction ) atau dalam bahasa kita dinamakan hukum tarik menarik. Saya tidak akan bahas lebih detail di saat ini. Anda bisa baca buku The Secret dan juga buku Quantum Ikhlas.


Law of Attraction

Kalau orang barat bilang ini adalah LOA, tapi bagi orang beragama ini adalah DOA. Apalagi kalau yang beragama Islam, kita malah diwajibkan berdoa setiap saat. Doanya ini tidak sekedar diucapkan saja, namun harus dengan segenap pikiran dan perasaan.

Inilah kenapa doa orang-orang teraniaya itu cepat terkabul, karena mereka berdoa dengan seluruh perasaannya. Doa ibu kepada anaknya pun begitu, ibu menggunakan pikiran dan perasaan untuk mendoakan anaknya, sehingga doa nya lekas terkabul.

Contohnya, saya ingin menjadi seorang dokter, maka saya membayangkan kalau saya sudah menjadi dokter. Dengan mata terpejam bayangkan secara jelas, bagaimana saya memeriksa pasien, menulis resep, dan mendapat kabar bahwa pasien sudah sembuh. Lalu rasakan perasaan bahagia itu dan bersyukurlah.

Setelah selesai membayangkan atau visualisasi, segera kembali kepada aktivitas seperti biasa. Let it go, let it go. Can't hold it back anymore. Ibarat kita melepaskan anak panah dari busur, biarkan doa tersebut sampai ke tujuan (ke Sang Maha Pencipta)

Oiya, tidak perlu membayangkan terlalu lama 5-15 menit saja sudah cukup, asalkan dilakukan dengan konsiten. Waktunya bisa setelah sholat dan sebelum tidur. Selain visualisasi, usahakan juga untuk meminta doa dari kedua orangtua, terutama ibu Anda.

 (4) Pasang gambar impian pada dinding kamar 
Ini bukan sekedar pasang hiasan saja lho, namun ini ada maksudnya. Gambar atau foto akan menjadi pengingat akan mimpi-mimpi kita. Sehingga tidak akan lupa dan selalu fokus. Coba saja kalau kita bangun tidur, kita akan melihat gambar itu dan sebelum tidur pun lihat, bagaimana mungkin kita bisa lupa? Hehe


Ilustrasi

Dengan ada gambar juga memudahkan kita melakukan poin ketiga. Jadi gampang untuk visualisasi, karena kita akan tahu jelas detailnya.

Gambar di sini sesuai dengan mimpi Anda, misal ingin pergi haji maka, pasang foto Kabah, ingin rumah pasang gambar rumah dengan detail yang diinginkan, dan lain-lain.

Selain di dinding kita juga bisa pasang gambar sebagai wallpaper di hape, ditaruh di dompet dan di tempat-tempat yang sering kita lihat. Tapi please, jangan dipasang di kamar mandi yah :)

 (5) Rencanakan dan lakukan kegiatan untuk meraihnya 

Rencanakan beberapa hal untuk merealisasikan impian kita. Ini fungsinya sebagai anak tangga untuk menuju tujuan. Buatlah daftar rencana tentang apa yang akan kita lakukan.

Masih perlu contoh lagi kah? Hehe

Begini contohnya, misal saya ingin memiliki rumah tinggal. Maka, berikut beberapa hal yang seharusnya saya lakukan :
  1. Memutuskan apakah rumahnya sudah beli jadi atau membuat rumah di tanah kosong
  2. Mencari lokasi yang sesuai keinginan melalui brosur atau internet
  3. Mencari info tentang rumah tentang ukuran, kriteria, dan lain-lain
  4. Mengecek harganya
  5. Mengusahakan dananya
  6. dan seterusnya
Langkah-langkah tiap orang juga akan berbeda-beda, karena ini sesuai dengan strategi dan kenyaman melakukannya. Nah, tulislah langkah-langkah tersebut hingga sampai poin mendapatkan impian kita.

 (6) Stay fokus 
Akan ada banyak mimpi-mimpi baru berdatangan yang akan mengganggu fokus kita kepada mimpi utama. Seperti kata orang, rumput tetangga memang lebih hijau. Mimpi-mimpi lain memang mungkin menggiurkan, tapi jangan sampai membuat kita tidak peduli lagi dengan mimpi sebelumnya.

(Baca juga : Rumahku adalah Surgaku)

Kalau fokus kita terbagi banyak, lalu kapan mimpi kita dapat terwujud. Tenaga dan waktu kita keburu habis dan bisa-bisa tidak satu pun mimpi akan terwujud. Nah, jika memang dirimulah tulang rusukku alasan menggapai mimpi kita kuat, insyaAllah kita akan tetap fokus mengejarnya.

 (7) Pasrah 
Ini sudah sampai poin final nih. Di mana semua impian itu adalah milik Allah semata. Segala suatu keinginan haruslah ada Acc atau persetujuan dari-Nya.

Setelah semua usaha yang kita lakukan, maka kita harus pasrah apakah impian kita akan tercapai atau tidak. Namun, tetap poin ini hanya bisa dilakukan kalau kita memang sudah berusaha dengan segenap tenaga. Kalau masalah hasil kan siapa yang tahu?

Bisa saja kita gagal meraih mimpi gara-gara ada yang memang lebih berusaha dibanding kita. Analoginya seperti sebuah lomba, kita sudah berusaha sekuat mungkin eh ternyata kita kalah. Kita tidak salah kok dalam berusaha, hanya saja ternyata lawan kita telah melakukan usaha lebih banyak ketimbang kita. Jadi, ya wajar saja kita tidak mendapat kemenangan.

Namun, apapun hasilnya Tuhan akan menilai prosesnya kok. Tidak ada yang sia-sia dalam berproses, karena pelajaran berharga bisa kita dapatkan dari sana. Bisa jadi kita gagal, lalu kita akhirnya tahu seluk beluk perjuangan sebelumnya. Akhirnya kita bisa memulai lagi dengan lebih penuh persiapan dan kemungkinan untuk meraih mimpi akan lebih besar.

Dan juga, kita benar-benar tidak tahu apa rencana Tuhan yang sebenarnya. Bisa jadi dia telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih hebat daripada impian kita sebelumnya. Bisa jadi kan?

(Baca juga : Kehilangan Bukanlah Suatu Akhir)


Kesimpulan

Jadi, flashback sebentar. Bahwa cita-cita itu bukan hanya sebuah profesi, namun sifatnya sangat luas. Kemudian, untuk dapat merealisasikan mimpi, kita perlu alasan yang kuat sebagai bahan bakar motivasi dan semangat.

Selanjutnya kita melakukan langkah-langkah yang sudah dijelaskan di atas. Ini hasil dari pengalaman saya dan pengalaman orang lain yang memang terbukti punya probabilitas lebih tinggi ketimbang hanya diam saja.

Akhirnya selesai juga saya share tulisan ini. Jangan lupa untuk shre tulisan ini kepada keluarga maupun sahabat. Semoga segala impian baik kita akan tercapai dan memudahkan kita untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat. Amiin. 
patience, sabar

Apa Arti Dari Kata Sabar? 

Kalau merujuk dari wikipedia. Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa orang yang memilikinya.

Jadi jelas, kalau sabar itu adalah suatu sikap mengendalikan diri dari emosi maupun keinginan. Misalkan, kita merasa ingin marah, kemudian kita tahan. Kita ingin membeli laptop bagus, namun duit masih belum ada dan kita menunggu sampai ada uang (yang halal). Ini bisa dibilang sebagai sikap sabar.

Setelah paham dengan arti sabar, coba tanya pada diri sendiri, apakah kita ini termasuk orang yang sabar?

Ada banyak orang yang mengaku orang yang sabar, namun kenyataannya tidak. Ini terjadi pada masalah yang berbeda, yang seringkali kita terjebak ke ketidaksabaran. Kita terjebak, merasa bahwa kita ini sedang sabar, tapi sebenarnya tidak.

Kita Tidak Sabar Melihat Orang Lain Yang Tidak Sabar

Tanpa kita sadari lo, kejadian ini bisa saja kita alami. Di mana kita merasa tidak sabar karena melihat orang lain tidak sabar. Lantas maksudnya bagaimana?

Contoh Kasus 1

Misalkan kita berada di sebuah traffic light, tentu semua mata akan waspada memandang lampu merah, karena siapa tahu tiba-tiba berubah menjadi hijau. Dan benar lampu pun menandakan kendaraan sudah dapat berjalan. Baru saja berubah warna, kendaraan di belakang kita sudah membunyikan klakson berkali-kali.

"Huuhh... sabaran dikit donk, baru aja hijau udah berisik...!", pikir kita.

Nah, orang yang klakson-klakson terus kan karena ia tidak sabar ingin segera melaju. Sedangkan kita yang 'merasa' sabar (tidak bunyikan klakson), namun malah kita menjadi tidak sabar melihat kelakuan orang yang di belakang kita.


Ilustrasi Lampu Lalu Lintas
Berhenti Saat Lampu Merah (sumber : harleysnote.wordpress.com)

Contoh Kasus 2


Seorang maling kepergok mencuri dompet dari ibu-ibu. Sontak sang ibu kaget, lalu secara refleks berteriak, "Maliiing...!!"

Alhasil banyak warga mengejar pencuri tersebut dan akhirnya tertangkap. Pasti sudah pasti kelanjutannya sang copet pun babak belur dihakimi masyarakat, kemudian polisi datang untuk mengamankan tersangka.

Kalau kita pelajari, sudah pasti mencuri barang milik orang lain adalah sifat ketidaksabaran dari pelaku. Ia jenuh berlama-lama mencari uang, sehingga ia perlu cara singkat, yaitu dengan mengambil hak orang lain.

Nah, bagi warga yang tadi main pukul. Mereka memang sabar dalam mencari uang, sehingga tidak mencopet seperti tersangka tadi. Namun, mereka kini menjadi tidak sabar dengan kelakuan pencopet tadi, sehingga terjadilah peristiwa main hakim sendiri.

copet tertangkap
Copet sedang diamankan pihak berwajib (sumber : tempo.co)

Sudah mulai bisa disadari kan?

Ternyata terkadang hati ini kesulitan untuk memaknai kesabaran. Dan memang apa yang kita tahu tentang sabar itu masihlah sangat sempit. Tentu masih ada banyak contoh-contoh kasus lainnya, di mana kita seringkali tidak sabar karena melihat orang tidak sabar.

Kalau memang kita ini ingin menjadi orang yang sabar, maka mulai pekalah terhadap perasaan-perasaan emosi yang muncul. Sadari dari mana perasaan itu muncul. Jangan biarkan setan berhasil menggoda hati kita dengan tipu dayanya. 

Kan gawat kalau kita sendiri merasa 'sudah' menjadi orang sabar, tapi di mata Tuhan kita ini belumlah menjadi orang yang sabar.
masa lalu, masa depan, dan hari ini

Pernahkah kita menyesali suatu hal di masa lalu? Atau mungkin melamunkan masa depan? Tidak perlu malu untuk mengakuinya. Sebagai manusia, justru wajar kalau kita melakukan kedua hal tersebut.

Apalagi kalau di kala beranjak tidur, seringkali pikiran-pikiran masa lalu atau masa depan kian menghampiri. Membuat kita sejenak merenungi hal tersebut.

Ada yang mengingat masa lalu, memutar rekaman kehidupan yang telah terjadi. Lalu, ada juga yang membayangkan kehidupan di masa depan.

Mengenang Masa Lalu

Masa lalu ada karena memang untuk dikenang. Di mana semua hal yang telah terjadi di kehidupan kita akan terekam dalam memori otak. Setiap saat dapat kita putar kembali memori tersebut, untuk mengingat dan mengenang momen di saat itu.

Meski fungsinya adalah untuk dikenang, namun tetap saja ada yang takut dengan masa lalu. Merasa bahwa masa lalu selalu mengejar. Kita sudah berusaha untuk melupakannya, namun kenangan itu selalu datang menghantui. 
Masa lalu biarlah masa lalu. Jangan kau ungkit jangan ingatkan aku... 
(Inul Daratista)
Alangkah bijaknya apabila masa lalu dijadikan suatu pelajaran untuk melangkah lebih jauh. Ya, masa lalu adalah pengalaman berharga yang dapat kita ambil hikmahnya.

Alangkah bijaknya apabila kita menjadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga. Pengalaman di masa lalu dapat menjadi acuan untuk melangkah jauh ke depan.

Contoh kasus sederhananya, suatu hari kita berjalan di tempat yang agak gelap. Tiba-tiba tanpa sengaja kaki kita masuk ke lubang yang cukup dalam. Sehingga membuat kita tersandang dan jatuh.

Beberapa hari kemudian kita berjalan lagi melewati jalan yang sama. Nah, dari masa lalu kita tahu bahwa di jalan itu ada lubang yang cukup dalam.

Tentu dengan pengalaman yang kita punya, kita akan berusaha menghindari lubang itu. Entah dengan loncat, minggir atau bisa dengan membuat langkah panjang. Tujuannya jelas agar kaki tidak masuk lubang lagi.

belajar dari masa lalu

Merencanakan Masa Depan

Melamun tentang masa depan juga tidak salah, apalagi kalau dengan niat untuk merencanakan masa depan.

Merencanakan masa depan sama saja dengan menetapkan target alias tujuan kita di masa yang akan datang. Kalau kita sudah tahu targetnya, maka akan dengan mudah meraih apa yang kita targetkan.

Sebagai contoh kita merencanakan untuk menjadi seorang dokter. Dengan kita tahu apa yang kita inginkan, tentu kita akan memilih jalan yang sesuai dengan target, yaitu dengan kuliah di jurusan kedokteran.

Meski begitu tapi tetap saja ada yang takut dengan masa depan. Takut dengan apa yang akan terjadi dan pesimis dengan kehidupannya di masa depan.

pentingnya target / tujuan

Jangan Lupakan Hari Ini

Ada yang lebih penting dari masa lalu dan masa depan, yaitu hari ini / masa sekarang. Jangan lupakan kalau kita ini sedang berada di masa sekarang.

Kita terlalu terbuai dengan ingatan di masa lalu dan lamunan akan masa depan, sehingga lupa untuk menjalankan hari ini. Padahal hari ini kan sangat menentukan nasib kita ke depannya.

Bisa jadi di masa lalu nasib kita kurang beruntung, dengan perjuangan di hari ini sangat mungkin sekali nasib kita menjadi bagus dan segala angan-angan di masa depan pun dapat tercapai dengan usaha di hari ini.

pentingnya hari ini / sekarang

Kesimpulannya memikirkan masa lalu dan masa depan itu penting, namun jangan terlalu lama terbuai memikirkan kedua hal itu sehingga melupakan hari ini. Sebab, hari ini adalah awal kehidupan kita yang baru.

Beberapa bulan lalu di weekend yang cerah, saya berdialog dengan diri sendiri. Hal ini lumayan sering saya lakukan sebagai pembuka pikiran agar dapat menemukan sudut pandang baru dari sebuah momen. Saat itu yang sedang dibahas adalah tentang impian.

"Saat ini apa memangnya yang ingin kamu lakukan? Saat ini kan kamu sedang merantau di Jakarta, apa yang sekiranya dapat dilakukan selain bekerja?"

"Sepertinya, saya ingin membuat sebuah buku."

"Hmm, buku? Buku yang seperti bagaimana?"

"Ya seperti materi yang ditulis di blog, tentang pengembangan diri."

"Oh, ya ya... Sebelumnya kita pernah membahas ini kan, bahkan sudah lama sekali. Eh, apa kita sudah memulainya?"

"Belum sama sekali, hehe..."

"Oalah, kalau begitu ayo kita mulai. Kalau tidak ada gerakan mana mungkin bukunya bisa jadi."

"Hehe, iya oke ayo mulai."

Dan sejak saat itu akhirnya saya mulai menulis selembar demi selembar. Saat itu saya belum punya notebook, jadi saya menulis di smartphone dengan aplikasi Microsoft Word. Cukup menyulitkan, namun ini sudah menjadi komitmen untuk menyelesaikan sebuah naskah.

Serta saya ikut bergabung dengan MMO (Mentoring Menulis Online), ini sebagai langkah untuk membantu saya mewujudkan impian itu. Meskipun saya punya materi untuk dapat dituliskan di dalam sebuah naskah, namun saya perlu menuliskannya dengan benar. Sebab, bagaimanapun naskah adalah intisari dari pemikiran kita, tentu kita ingin pemikiran kita dapat dipahami oleh orang lain.

Sembari saya menyusun naskah, melalui MMO saya pun belajar bagaimana menyusun kalimat dengan benar. Bagaimana penggunaan tanda baca yang sesuai dan mempelajari apakah kata-kata yang saya gunakan itu sesuai dengan yang ada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau tidak.

Alhasil, beberapa minggu lalu naskah sudah jadi dan perlu adanya editing. Tentu pasti dalam menulis ada khilafnya, mungkin saja dalam naskah ada penulisan yang typo, apalagi saat itu saya menulisnya dengan sebuah smartphone.

Bagi penulis pendatang baru seperti saya, mungkin penerbit akan banyak pertimbangan untuk menerbitkan naskah saya. Ya itu tantangannya, bahkan seorang Raditya Dika saja pernah ditolak penerbit naskah Kambing Jantan-nya.


Dari tindakan kecil akan menuntun kita menuju hal besar.

Kalau kita memiliki sebuah impian, ayo lakukan gerakan untuk memulainya. Mulailah dari hal yang kecil, seperti misal memiliki impian untuk menerbitkan buku. Maka, kita sebaiknya mulai mengawalinya dengan menulis naskah sedikit demi sedikit.

Tidak berbeda pula dengan impian lainnya. Ingin dapat menjadi pengusaha besar? Ya mulailah terjun ke dunia bisnis, mulailah dari hal kecil dulu, misal menjadi reseller sebuah produk (buku, fashion, makanan).

Apapun itu mulailah dari hal kecil, kerjakan apa yang dapat kita kerjakan. Maka, suatu saat kita akan dapat mengerjakan hal besar, hal yang mungkin dulu kita anggap tidak mungkin untuk dapat kita lakukan.

Impian kita mungkin satu sama lain berbeda, namun untuk meraihnya tetap sama, yaitu dengan memulainya. Ayo sama-sama kita perjuangkan impian kita.

Baiklah, semangat untuk kita semua!


Manusia pada dasarnya sangat mengidam-idamkan kebahagian. Suatu perasaan yang sudah lama dipelajari manusia sebagai perasaan yang layak dan harus dimiliki oleh dirinya. Suatu perasaan yang membuatnya selalu ingin tersenyum dan dapat menikmati hidup dengan suka cita.

Sejak kecil pun manusia sudah diajari secara tidak langsung dengan pentingnya suatu kebahagiaan. Dari film untuk anak-anak pun dipastikan akan happy ending. Seperti kasus pada film Barbie, dimana kita diperlihatkan bagaimana menghadapi penjahat (biasanya nenek sihir) dan kemudian hidup bahagia dengan pangeran.

Tentu dari film lah manusia belajar bahwa perlu perjuangan yang besar untuk merasakan bahagia layaknya happy ending pada film. Dan tentu ini sangatlah baik pesan moralnya, yaitu yang baik pasti akan menang dan yang jahat akan kalah. Cukup simpel memang, namun ini bagus untuk mengajarkan kebaikan pada manusia.

Paragraf di atas sekedar intermezzo saja. Kalau saya bahas tentang film Barbie lagi, tentu akan membuat Anda curiga dan berpikir, "Ah, jangan-jangan si penulis suka nonton film Barbie..." :D

Kali ini kita membahas tentang kebahagiaan. Tentu sangat kita inginkan rasa bahagia itu selalu ada bersama kita tanpa pernah hilang tersapu oleh rintik-rintik masalah kehidupan. Lebay? Ah saya rasa tidak, kita bisa kok seperti itu. Karena sesungguhnya kita memiliki tombol sendiri untuk bahagia.

Maksud dari tombol adalah semacam switch on/off pada saklar. Apabila Anda tekan on, maka Anda akan bahagia dan begitu pula sebaliknya. Apa artinya?

Artinya kita punya kuasa penuh untuk bahagia atau tidak atau lebih tepatnya kita punya pilihan untuk memilih bahagia atau tidak. 

Ini tergantung dari setinggi apa tombol kebahagiaan itu diletakkan. Ada yang rendah ada juga yang tinggi. Kalau terlalu tinggi tentu kita kesulitan untuk menekannya dan butuh sesuatu yang tinggi juga untuk menggapai lalu menekannya.

Pernahkah mendengar atau melihat ungkapan "Bahagia itu Sederhana"? Ungkapan ini benar adanya karena tidak perlu muluk-muluk untuk merasakan bahagia.

Namun, kenyataannya banyak orang yang mengaku tidak bahagia. Contohnya si Joko, seorang lelaki yang bekerja sebagai Kepala Kantor Wilayah di Direktorat Jenderal Pajak. Tentu Joko ini tentu bisa dikatakan sebagai orang yang sukses dan banyak yang ingin menjadi seperti dia. Beliau mempunyai banyak uang, jabatan yang tinggi dan istri yang cantik pula (harta, tahta dan wanita).

Dan anehnya, Joko ini mengaku tidak bahagia hidupnya. Banyak target Joko yang belum terlaksana sehingga tentu dia sering kali galau. Target membeli rumah baru, mobil baru, jalan-jalan ke Ethiopia Eropa, dan mungkin saja ada target punya istri muda :D

Lain cerita dengan si Steven. Dia adalah lelaki paruh baya yang berprofesi sebagai pemulung di Ibukota. Hasil dia memulung hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan makan di hari itu juga. Namun, entah mengapa dia menekuni profesi memulung itu dengan sangat ihklas. 

Selepas memulung ia pulang ke gubug di bawah jembatan lalu disambut oleh istri dan peri kecilnya. Bersedau-gurau sambil menikmati hidangan nasi dan ikan asin, tak lupa pula ditemani musik berupa dengungan suara kendaraan dari atas jembatan. Nah, kesimpulannya si Steven hidup dengan bahagia. Meski jauh seperti Joko, Steven selalu mensyukuri apa-apa yang yang ia dapatkan.

Kehidupan Joko dan Steven ini ibarat sianida dan kopi bumi dan langit, sangatlah jauh berbeda. Kalau Joko merasa bahagia lalu Steven tidak merasa bahagia tentu sangatlah wajar kalau dilihat dari perbedaan derajatnya. Namun kok ini terbalik yah?

Oalah.... 

Setelah merenung, saya menemukan adanya peningkatan standarisasi untuk bahagia pada si Joko. Manusia itu memiliki hawa nafsu, karena Joko adalah manusia jadi dia memiliki hawa nafsu. Tuhan menciptakan manusia dengan akal dan pikiran itu tentu untuk mengontrol nafsu tersebut.

Karena adanya peningkatan gaya hidup, si Joko tanpa sadar menaikan standarisasi kebahagiannya. Tentu yang menaikan standar ini adalah hawa nafsunya. Hawa nafsu yang tidak pernah merasa puas dan tidak merasa bersyukur akan sesuatu yang didapatnya dan ingin mendapatkan yang lebih. Kalau dia mendapatkan sesuatu di bawah standarnya tentu dia belum merasa bahagia.

Hari Minggu, tetangga Joko yang hidup sederhana mengadakan syukuran atas lahirnya anak mereka. Seperti pada umumnya orang syukuran, tetangga itu pun mengantarkan nasi kotak ke rumah si Joko. Oke, diterimalah nasi kotak tersebut oleh Joko. Tapi, karena dia mungkin merasa punya makanan yang lebih enak di rumah. Dia pun membiarkan nasi kotak tersebut di dapur berhari-hari hingga akhirnya basi. Ini ibarat memberi garam ke air laut.

Masih di hari Minggu, ternyata nasi kotak milik tetangga Joko masih tersisa 3 kotak. Nah kemudian tetangga itu melihat pemulung di depan rumahnya. Lalu dikasihlah nasi kotak itu ke pemulung tersebut. Ya pemulung itu tidak lain adalah Steven, wah 3 nasi kotak ini diterima dengan suka cita. Lalu dia bawa pulang untuk diberikan kepada istri dan peri kecilnya. Kapan lagi keluarga nya dapat makan nasi kotak dengan lauk yang full komplit seperti ini.

So, untuk bahagia itu tergantung dari kitanya saja. Koreksi diri sendiri, apakah standarisasi kebahagiaan kita terlalu tinggi atau tidak. Kalau terlalu tinggi ya tinggal turunkan saja. Kalau sulit bagi Anda, tentu Anda harus diruqyah belajar bagaimana kesederhanaan itu. Harta boleh melimpah ruah, namun hidup tetap haruslah sederhana.

Melihat orang lain yang kurang beruntung tentu dapat membuat kita mensyukuri apa-apa yang telah miliki sekarang. Lihatlah kehidupan mereka yang kurang beruntung di sekitar kita dan berbagilah rezeki kepada mereka. Ini juga salah satu cara ampuh untuk bahagia apabila Anda memiliki standarisasi kebahagiaan yang tinggi.

Kebahagian dalam berbagi tentu tingkatannya lebih tinggi daripada kebahagiaan dalam menerima. Dan dengan cara berbagi itulah yang dapat menjadi tangga panjang menuju ke atas, hingga akhirnya Anda dapat menekan tombol kebahagiaan. Lalu kemudian Anda turun kembali membawa tombol tersebut dan meletakannya kembali pada posisi yang tidak terlalu tinggi, sehingga mudah dicapai dengan mudah. Ingin bahagia? Tinggal tekan tombol saja. Teng Tong....

Takdir Baik Atau Buruk?

Takdir adalah suatu hal di luar kuasa manusia. Dan hanya Tuhanlah yang dapat mengatur skenario tentang apapun kejadian yang ia kehendaki di dunia ini. Tentang kejadian terjadinya kehidupan di bumi hingga kelak kiamat, hanya Ia-lah yang paham betul detail kejadiannya.

Lalu apakah kita berhak menyalahkan Tuhan atas kejadian sial dan kurang beruntung yang telah kita alami. Kita tahu bahwa itu pasti takdir. Seperti halnya kita karena kita terjebak kemacetan yang tak terduga, bisa juga di saat kita ingin jalan-jalan keluar ternyata disaat bersamaan hujan pun turun sehingga kita tidak jadi keluar dan berdiam diri di rumah. Menurut Anda itu takdir atau bukan? Kalau kita sepakat itu takdir, berhakkah kita menyalahkan Tuhan atas apa yang menimpa kita?

Tunggu sebentar, sebelum melanjutkan lebih jauh mari kita abaikan antara perbedaan Nasib atau Takdir di artikel ini. Karena kalau kita dibahas malah bakal timbul perdebatan, hehe. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk memiliki sudut pandang yang berbeda tentang segala keputusan Tuhan yang telah dianggap sebagai kesialan selama ini.

Pernahkah ada suatu moment yang dapat dianggap sebagai kesialan yang membuat kita merasa kesal? Oke, ambil contoh seperti di atas. Kita tidak bisa jalan-jalan ke pantai karena turun hujan. Nah, tentu itu akan dianggap suatu kesialan bukan?

Kita kesal karena sebelumnya telah merencanakan jauh hari untuk kegiatan jalan-jalan tersebut. Kesal karena tidak bisa menikmati pemandangan yang indah di pantai dan kini hanya dapat menatap derasnya air hujan di balik jendela.

Namun, cobalah kita berprasangka baik atau merubah sudut pandang tentang datangnya hujan ini. Mungkin saja dengan tidak jadinya jalan-jalan, Tuhan telah menolong kita dari suatu petaka. Tentu petaka bisa apa saja, mungkin kecelakaan, kecopetan, ban bocor di jalan sepi, atau bisa jadi melihat mantan jalan dengan pacar barunya. Yang tentu akan membuat kita jauh lebih merasakan penderitaan ketimbang gagal untuk jalan-jalan.

Penting bagi kita untuk dapat menemukan makna di dalam suatu peristiwa. Dengan begitu kita akan selalu berprasangka baik kepada Tuhan.

Pengalaman Pribadi

Seperti halnya seperti pada waktu smartphone saya dicopet saat di TransJakarta (kisahnya saya tulis di post "Awal Pengalaman Merantau". Bagi saya tentu itu sangat menyebalkan, namun beberapa saat kemudian saya mengubah sudut pandang atas kejadian tersebut. Yang pada awalnya saya merasa sedih dan menyalahkan pencopet tersebut, kemudian saya menjadi bersyukur.

Lalu apa makna yang saya temukan? Pertama, saya menganggap kehilangan smartphone sebagai tumbal untuk mendapatkan sesuatu yang baik. Dan ternyata benar, Alhamdulillah saya diterima kerja di perusahaan kontrusksi Jakarta. Materi tentang tumbal pernah saya sampaikan di post "Kehilangan Bukanlah Suatu Akhir".

Kedua, karena sudah lama tidak pegang smartphone saya menjadi lebih fokus saat wawancara kerja. Ketiga, saya menjadi lebih bersemangat untuk mencari rezeki. Tentu saja untuk membeli smartphone baru, hehe. 

Keempat, saya menjadi lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Dan karena dilakukan lama, akhirnya menjadi suatu kebiasaan dan tetap dilakukan bahkan saat sudah memiliki smartphone baru. Kelima, saya jadi punya smartphone yang lebih canggih daripada yang hilang dulu. Keenam, rahasia. Hehe banyak hal yang bersifat pribadi.

Hal di atas hanyalah satu contoh pengalaman saja. Tentu sudah banyak sekali peristiwa yang kita sudah alami. Dan dari satu contoh kesialan saja sudah saya dapatkan banyak makna yang terkandung di dalamnya. Belum lagi ada hal-hal yang tidak saya sampaikan di sini.

Mencari Makna

Tuhan tentu mempunyai alasan dalam memberikan suatu cobaan. Bisa saja Tuhan ingin membuat kita lebih maju dan kuat dalam menghadapi kehidupan ini. Sehingga akhirnya Dia memberikan cobaan yang sekiranya dapat membuat kita menjadi berkembang. 

Atau bisa juga Tuhan ingin melindungi kita dari suatu hal yang buruk, maka Tuhan pun membuat kita menjadi gagal. Sebab apabila kita berhasil dalam suatu hal tertentu, maka akan ada hal buruk yang menimpa kita dan Tuhan tidak menginginkan itu terjadi karena Dia sayang kepada kita. (kalimatnya emang rumit, namun seharusnya logikanya mudah dimengerti)

Oke biar paham, saya contohkan seperti ini : Anggap saja Anda gagal lolos ujian masuk di universitas ternama. Padahal Anda sangat ingin dapat kuliah di universitas tersebut dan sudah berjuang mati-matian untuk dapat masuk ke sana. Dan kini Anda pun mulai menyalahkan banyak hal atas kegagalan tersebut. 

Namun, ternyata Anda tidak tahu kebenarannya. Tuhan tahu kalau Anda masuk ke universitas tersebut, Anda akan menjadi sombong perilakunya. Karena hati Anda yang saat ini belum cukup mapan menerima suatu kemenangan besar. Atau juga apabila kuliah di sana, Anda bisa saja salah pergaulan. Karena teman se-angkatan Anda di tahun penerimaan saat itu ada teman-teman yang tidak baik yang akan menjuruskanmu ke hal tidak baik. Sudah paham kan? 

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Dan kita-kita ini yang pernah mendapat suatu kegagalan atau kesialan. Yang dahulu kita anggap suatu kesialan, cobalah koreksi lagi lalu revisi penilaian kita. Carilah makna yang terkandung dalam peristiwa tersebut, pasti ada sesuatu di balik itu. Tuhan sayang kepada kita, namun kita tidak peka dengan kasih sayang-Nya.

"Aku tidak gentar menghadapi orang yang telah berlatih 10.000 jenis tendangan, tetapi aku akan gentar menghadapi orang yang berlatih satu jenis tendangan sebanyak 10.000 kali." ~ Bruce Lee 
Bagi Bruce Lee bertemu orang yang telah berlatih 10.000 jenis tendangan tidaklah suatu yang istimewa, karena tendangannya tidaklah expert dan umum seperti biasa. Beda hal nya dengan orang yang telah berlatih satu tendangan saja sebanyak 10.000 kali. Wuiih bayangkan betapa dahsyat tendangan yang orang itu miliki. 

Quote dari Bruce Lee secara tidak langsung mengarahkan kita untuk dapat fokus mempelajari suatu hal. Karena apabila kita belajar banyak keahlian tentu kita tidak akan bisa expert (ahli), sebab waktu kita telah habis untuk belajar bermacam-macam hal yang berbeda. 


Beda halnya jika kita fokus mendalami suatu bidang saja. Tentu efeknya kita akan menjadi jauh menguasai bidang tersebut dan kelak akan menjadi expert di bidang tersebut. Kalau pun kita mengerjakan sesuatu misalnya skripsi bagi mahasiswa, kalau kita mengerjakan dengan fokus tentu akan cepat selesai dan hasilnya maksimal.



Quote Bruce Lee - Citra Pradipta


Seperti yang dulu kita pelajari saat praktikum pelajaran IPA. Cahaya matahari tentu terasa hangat. Namun, apabila kita gunakan kaca pembesar. Maka cahaya hangat matahari akan fokus ke satu titik, dan akhirnya dapat membuat benda terbakar. Dan juga tetesan air yang terus menerus jatuh di satu titik (fokus) akan membuat batu menjadi berlubang. Nah, itulah kekuatan dari fokus.


Fokus dengan kata lain dapat membuat kita lebih cepat matang di suatu hal. Sebab, tenaga dan pikiran kita tentu hanya digunakan untuk bidang tersebut dan tentu hasil yang kita dapatkan akan maksimal. Boleh saja kita melakukan banyak hal, namun tentu harus tetap ada yang harus difokuskan.

Biasanya si orang akan lebih akan mendalami suatu hal apabila itu termasuk dalam kesukaannya / passion. Karena dasarnya sudah suka, maka tentu akan dengan senang hati menekuni hal tersebut. Seperti contohnya Bruce Lee, ia sejak kecil sudah menyukai seni bela diri. Maka, ia pun terus berlatih bela diri karena atas dasar suka. Dan melakukannya tanpa ada rasa beban, hingga akhirnya ia pun expert di bidang bela diri.


Kelak passion yang telah kita kuasai dengan matang akan menjadi ciri khas dari kita di saat ini atau di masa yang akan datang. Misal passion kita adalah menulis, tentu kita akan dikenal oleh orang lain sebagai orang yang suka dunia menulis. Terlebih lagi apabila kita menghasilkan suatu karya seperti buku, kita akan diberi label penulis oleh orang lain. Itulah yang menjadi ciri khas kita.


Perlu diingat, yang perlu kita fokuskan tentu adalah hal yang baik. Misal yang buruk itu mencuri, masa kita mau fokus dalam hal mencuri dan berharap akan expert dalam hal mencuri. Itu kan sangat disayangkan, pikiran dan tenaga kita difokuskan untuk memiliki keahlian yang tidak baik. Kalian sudah dewasa, tentu sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Apakah Harus Fokus di Passion yang Sudah Kita Miliki?

Memang melakukan hal yang sesuai dengan passion adalah hal yang menyenangkan, namun sebenarnya tidak selalu harus passion yang kita fokuskan. Sebab, belum tentu passion itu sendiri memang cocok atau bermanfaat untuk kita. Ini tergantung dari situasi dan kondisi di lapangan. Kita sepatutnya dapat berpikir jauh ke depan tentang prospek dari hal yang kita fokuskan ini. Cukup tanyakan dalam diri kita "Ada manfaatnya atau tidak?"

Passion itu bukan bakat atau bahkan bawaan sejak lahir, itu tercipta karena kita telah mencobanya dan kita pun jadi menyukainya. Akhirnya kita menikmati untuk melakukannya, karena terasa menyenangkan. Nah, oleh karena itu sangat besar kemungkinan passion kita dapat berubah di masa yang akan datang. Bisa saja kita akan menemukan hal yang lebih menyenangkan daripada sebelumnya, sehingga fokus kita jadi berubah. Terlebih kalau di masa yang akan datang kita tahu kalau passion kita itu kurang bermanfaat, bukan tidak mungkin kita akan menghilangkan passion tersebut.


Sebaiknya kita lakukan hal yang bermanfaat lalu kita nikmati. Jadikan hal bermanfaat itu sebagai passion. Kalau kita terus menerus melakukan hal tersebut, lama kelamaan kita juga akan mencintai kegiatan tersebut. Nah, passion itu ternyata dapat diciptakan.

Kembali Fokus

Tuh kan, lagi bahas tentang fokus malah jadi bahas tentang passion. Awalnya saya tidak ingin membahas passion karena dulu pernah menulis postingan tentang passion, namun saat menulis malah nyambung ke passion. Ya itu si karena memang benar, kita akan lebih mudah fokus apabila yang ditekuninya adalah hal yang kita sukai, hehe... 

Mumpung masih ada waktu, kita sekarang intropeksi dan bertanya pada diri sendiri. Apakah selama ini saya fokus dalam melakukan suatu hal atau tidak? Sebab dengan kita mengfokuskan diri dalam menekuni suatu hal, kita jadi bisa memiliki keahlian yang jarang dimiliki orang lain. 


Fokuslah dengan apa yang kita inginkan. Dengan mengfokuskan diri itu artinya kita memiliki tujuan yang terperinci. Fokus akan membuat kita memiliki banyak solusi untuk mengatasi masalah - masalah yang akan timbul di perjalanan kita mencapai tujuan, sekaligus akan memiliki acuan / panduan untuk kita untuk melangkah.


By the way....

10.000 jenis tendangan Vs 1 tendangan itu bisa dikatakan sebagai Kuantitas Vs Kualitas.
kata bijak menentukan pilihan

Perlu diketahui kehidupan adalah tentang bagaimana kita harus bijak dalam menentukan pilihan. Pilihan yang tak akan habis dan selalu ada. Bercabang-cabang dan pada akhirnya semua cabang tersebut akan bertemu di suatu titik yang dinamakan kematian.


Di sini saya tidak membicarakan tentang kematian, namun kembali perlu diingat bahwa selama kita hidup, kita akan selalu disuguhi oleh banyak pilihan. Dan apabila kita telah berhasil menentukan pilihan, maka akan timbul banyak pilihan baru lagi. Begitu seterusnya hingga waktu kita di dunia ini habis.

Mungkin akan ada kepikiran begini : "Kalau gitu kalau asal pilih atau tidak memilih itu tidak apa-apa kan? Toh endingnya juga sama-sama mati."

Memang benar endingnya sama, namun kalau asal menentukan pilihan efeknya akan berdampak asal-asalan juga bagi kehidupan kita. Hidup ini bukan asal-asalan, pilihan yang kita pilih di masa lalu hasilnya ada di hari ini. Liat keadaan kita saat ini, ini adalah hasil dari semua pilihan yang telah kita pilih dari dulu hingga sekarang.

Sebenarnya pilihannya itu seperti apa si? Tentu ada banyak sekali dan penuh modifikasi. Contoh simpelnya adalah pilihan seperti dihadapi pilihan antara mau belajar atau tidak, mau ngerjain tugas atau tidak, mau menunda atau tidak, dan lain-lain.

Tapi aslinya tidak sesimpel itu, pilihan itu penuh modifikasi. Misal kita telah menentukan pilihan untuk mengerjakan tugas, maka akan muncul pilihan modifikasi seperti : mau mengerjakan tugas dengan siapa, ngerjakan jam berapa, ngerjakan sambil ngemil atau tidak, mau nyontek tugas temen atau tidak, mau minta diajarin atau berusaha sendiri. 

Itu penuh modifikasi, namun jangan dianggap enteng. Karena sesungguhnya setiap putusan yang kita ambil akan mempengaruhi kehidupan kita di hari itu dan di masa depan. Itu baru pilihan tentang mengerjakan tugas, belum pilihan-pilihan yang lain seperti : Mau kuliah atau tidak, kuliah ambil jurusan apa, mau kerja atau bisnis, pengen nikah di umur berapa, dan lain-lain. So be careful... semua pilihan akan mempengaruhi seluruh hidupmu seperti efek domino.

Dan mana pilihan yang terbaik? Yang tahu hanyalah diri kita sendiri. Setiap pilihan yang kita ambil itu berbanding lurus dengan kualitas keadaan kita di hari itu. Tentu kalau orang hebat akan memilih pilihan hebat yang membuatnya semakin hebat, begitu juga sebaliknya. Orang malas akan memilih pilihan yang malas.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka" (QS. Ar Ra’d: 11)
kata bijak menentukan pilihan - QS. Ar Ra’d : 11


Nah, apa kaitannya dengan kutipan ayat di atas? Kita ambil contoh orang malas lagi. Orang malas tentu akan membuat keputusan yang malas, nah kalau begitu terus bagaimana dia bisa berubah jadi orang rajin? Dari ayat di atas udah disebutkan, kalau ingin berubah ya harus berubah sendiri. Jadi orang malas bersebut harus membuat keputusan untuk berubah dengan memilih pilihan yang jauh dari kata malas.


Apa orang malas itu bisa membuat keputusan yang tidak malas? Ya bisa, tapi itu berat. Seringnya orang dapat berubah apabila dia telah mengalami peristiwa yang berat dan secara tidak langsung membuat dirinya ingin berubah menjadi lebih baik. Hehe... istilah mudahnya adalah mendapat hidayah.


Tapi tidak serta merta harus mengalami peristiwa berat dulu baru mau berubah, mulai sekarang juga sebenarnya kita bisa berubah menjadi jauh lebih baik. Tentu asal kita punya kemauan, intinya itu kita mau atau tidak untuk berubah, pilihan ada di tangan kita.


Nah, sekarang tinggal bagaimana kita pandai-pandailah menentukan pilihan. Pilihlah pilihan yang membuat kita maju ke depan. Saya yakin kalian tahu mana pilihan yang terbaik. Dan apabila bingung dalam memilih, mohonlah petunjuk kepada Tuhan. So... selamat memilih.

Rumput tetangga terlihat lebih hijau. Saya rasa sudah banyak dari Anda yang mendengar kalimat tadi. Atau mungkin kalian pernah lihat ada iklan rokok yang memakai kalimat tersebut.

Di iklan tersebut terlihat ada beberapa kambing yang sedang makan rumput kering. Tiba-tiba salah seorang kambing melihat kalau rumput di balik pagarnya berwarna hijau segar.

Sang kambing pun tergiur, lalu melompat dengan kencang keluar pagar. Dan apa yang terjadi? Ternyata semua rumput yang berwarna hijau segar itu adalah rumput palsu alias rumput dari plastik dan tentu saja tidak bisa di makan, hehe...

Sudah ingat kan dengan iklan di atas? Ayolah, pasti sudah ingat. Kalau pun memang tidak ingat setidaknya bayangkan saja adegan di atas.

Oke, kembali ke monitor...

Dari ilustrasi tadi dapat diketahui bahwa sang kambing melihat kehidupan diluar sana sangatlah indah dan menyenangkan. Namun, setelah ia menghampirinya ternyata semua itu hanyalah kepalsuan. Tidak ada keindahan hakiki yang selama ini ia bayangkan.

Intinya apa yang kita lihat dari orang lain terkadang selalu lebih baik dari apa yang kita alami selama ini. Kita melihat tetangga kita ada yang selalu gonta-ganti gadget tiap 2 bulan sekali, ada yang punya mobil mewah, ada yang rumahnya mewah, dan lain-lain.

Namun, itu yang kita lihat hanyalah chasing-nya saja. Penampilan luar tidak bisa menjadi patokan abadi untuk menilai kehidupan orang lain. Apalagi banyak orang yang berusaha untuk memperindah chasing mereka sendiri agar dihargai oleh orang lain.

Tapi apakah kita tahu apa yang sebenarnya dialami oleh orang lain yang kita anggap bagus? Tentu saja tidak seluruhnya kita bisa tahu tentang orang lain.

Ada orang yang kaya raya, namun setelah diselidiki ternyata orang itu punya penyakit kanker. Nah, kita sebagai orang yang iri dengan kekayaannya. Ketika tahu dengan penyakit yang dideritanya, kita pun enggan jika bertukar tempat dengan orang kaya itu. Buat apa kita punya kekayaan tetapi kita menderita kanker.

Ada juga orang yang punya jabatan tinggi di pemerintah. Selidik demi selidik ternyata hubungan antar saudaranya tidaklah akur, karena ada unsur kecemburuan. Atau mungkin juga orang yang sangatlah kaya raya, namun waktu luang yang ia punya sangatlah sedikit, sehingga sulit untuk menikmati kehangatan keluarga. Lah, apa kita masih iri juga dengannya kalau keadaannya seperti itu?

Mungkin saja apa yang kita lihat baik itu memang baik adanya. Tapi ingatlah, Tuhan itu maha adil. Apa yang mereka punya mungkin tidak kita miliki, namun kita juga memiliki sesuatu yang mereka tidak punya. It's fair... right?

Apapun itu rezeki yang diberikan Tuhan tidaklah hanya berupa materi atau harta saja. Namun, perlu kita sadari begitu banyak rezeki yang sudah diberikan kepada kita-kita ini. Baik berupa kesehatan, keluarga yang akur, teman yang baik, ilmu yang bermanfaat, lingkungan yang baik, kepercayaan dari orang lain dan lain-lain.

Perlu diketahui, orang tak punya pun sebenarnya diberi rezeki tidak hanya dalam masalah kesehatan, kebahagian dan lain-lain. Mereka juga diberi kemudahan dalam beribadah dengan waktu yang longgar, mudah bersosialisasi dengan tetangga dan terlatih sifat sabarnya dalam menghadapi kehidupannya yang kurang beruntung. Masih ingat kan kalau sabar itu meningkatkan derajat kita di hadapan Tuhan?

Itu kebanyakan telah dilupakan oleh kita, kita tidak sadar itu rezeki karena kita sedang memilikinya. Kita bahkan mungkin baru sadar saat kita merasa kehilangan. Seperti kehilangan kesehatan dan sahabat misalnya, barulah kita sadar kalau itu merupakan rezeki yang harus kita syukuri.

Oke, intinya berhentilah membanding-bandingkan sesuatu dengan orang lain. Tenang saja Tuhan itu sudah adil, jangan jadi sok adil dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak adil. Ukuran adil bagi Tuhan itu terlalu sempurna, sehingga kita tidak mungkin dapat menyadarinya.
Rumahku adalah surgaku adalah istilah dalam bersyukur, merasa rumah kita (apa yang kita punya) adalah surganya kita (anugrah terindah). 
Kini saatnya bersyukur dan dengan apa yang kita miliki.  Alhamdulillah...