Kisah Mie Instan dan Secangkir Kopi

By | Minggu, September 04, 2016 44 comments

Minggu pagi yang cerah adalah waktu yang tepat untuk menikmati weekend. Ini waktu yang sangat sayang apabila dilewatkan. Biasanya kalau di pagi hari tentu saya sudah berangkat ke kantor dan bekerja. Nah, kalau sekarang ini waktu di mana saya dapat menikmati pagi hari dengan tenang. Hari Sabtu sebenarnya saya juga libur, namun Sabtu pagi lebih sering saya gunakan untuk merenung (baca : malas-malasan).

Ini adalah waktu yang tepat untuk saya menikmati kopi dan mie instan, hehe. Kalau minum kopi mungkin memang hampir setiap hari, namun kalau mie instan itu khusus untuk weekend. Entah sejak kapan saya punya jadwal tersendiri untuk mie instan.

Hari sebelumnya yaitu pada Sabtu sore, saya diajak oleh seorang sahabat untuk belanja bulanan. Ya namanya juga awal bulan, hehe tentu kita harus kembali me-manage barang-barang apa saya yang akan digunakan dalam sebulan ke depan. Dan salah dua barang wajib yang harus saya beli adalah mie instan dan kopi.

Saya membeli kopi dan mie instan sesuai merek yang biasa saya pakai. Nah, saya tiba-tiba kepikiran untuk membeli lagi, tapi yang beda. Harganya sampai 3x kali lipat dari yang biasa saya konsumsi. 


Lalu kenapa saya membelinya? Ya sekedar pengen tahu saja, rasanya bagaimana dan mengapa bisa lebih mahal.

Indomie Real Meat dan Toraja Coffee (Sumber : Smartphone Pribadi)



Saya bukan sedang promosi kedua product tersebut, namun saya sedang penasaran. Mengapa meski mereka berdua lebih mahal, namun masih saya ada banyak orang yang membelinya. Tentu kalau kita pikir, masih mending beli yang lebih murah bukan?

Sebelumya di hari Rabu malam, saya mengikuti kuliah tentang Sistem Rekayasa dan Nilai (Value Engineering). Dosen saya memberikan suatu kasus sederhana. Ia mengeluarkan kedua handphonenya lalu berkata :

"Ini ada 2 handphone, yang ini hanya bisa digunakan untuk SMS dan telepon saja. Misal harganya adalah 50ribu. Kemudian yang satunya fungsinya lebih lengkap, bisa SMS, telepon, foto, audio, video dan internet, harganya 200ribu. Nah, kalian mau beli yang mana?"

"Yang 200ribu, Pak"

"Lho, mengapa? Bukannya lebih mahal?"

"Karena lebih lengkap, Pak"

Setelah saya mengingat percakapan tersebut saya akhirnya paham. Bahwa, Indomie Real Meat memang memiliki nilai lebih ketimbang Indomie Goreng biasa, itu yang membuatnya lebih tinggi. Kelebihannya tentu ada 'real meat'-nya dan plus jamur.

Lalu bagaimana dengan kopi Tojara? Ternyata selidik punya selidik, kopi Toraja memiliki kualitas yang baik. Bahkan, kalau kita lihat kemasannya, ada tulisan Jepangnya. Ini artinya product tersebut biasa di-export ke Jepang.


Di kemasan depan maupun belakang ada tulisan Jepang (Sumber : Smartphone Pribadi)

Oke, ini artinya kedua product tersebut memiliki nilai tambah, oleh sebab itu harganya lebih tinggi. Dan masyarakat pun sadar akan kualitas tersebut, makanya akan tetap membeli product yang memiliki harga tinggi. Ini masalah kualitas yang akan kita dapatkan.


Lalu bagaimana dengan diri kita?

Apakah Anda sadar kalau kita mempunyai kadar kualitas yang dapat dinilai oleh orang lain? Inilah yang perlu kita renungkan. Secara kasar, kita manusia adalah suatu product seperti kopi dan mie instan. Orang lainlah yang selama ini menilai kita, apakah kita cukup bernilai  atau tidak bagi orang lain.

Contoh seperti ini, untuk masuk ke Universitas ternama, nilai kualitas kita akan diuji melalui nilai saat sekolah atau bisa juga melalui tes. Kalau bagi Universitas nilai kualitas kita dianggap cukup, maka kita akan diterima.

Misalkan lagi masalah lowongan pekerjaan, toh kita tahu bahwa banyak perusahaan yang menetapkan syarat pengalaman bekerja sekian tahun. Nah, pengalaman kerja itu adalah suatu nilai yang harus kita miliki untuk masuk perusahaan tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari juga begitu. Semakin tinggi kualitas kita, maka kita akan semakin dibutuhkan orang lain. Sebab, kita dinilai mampu membantu mereka. Inilah yang akan membuat kita menjadi menjadi manusia yang banyak memiliki manfaat bagi sekitar.

Rasulullah SAW bersabda,


"Khairunnas anfa’uhum linnas", yang artinya, "Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)


Kalau merasa memiliki kualitas yang rendah apakah bisa bermanfaat juga?

Tentu saja bisa. Yang perlu kita pahami adalah, kita semua memiliki kualitas, perbedaannya adalah tingkatnya saja. Jadi, kita masih bisa bermanfaat bagi orang lain. Ingat perbedaan Indomie biasa dengan Indomie Real Meat? Toh, tetap saja Indomie biasa masih bermanfaat dan dapat dikonsumsi banyak orang.

Namun, tetap kualitas Real Meat masih lebih dibutuhkan oleh orang-orang. Sebab, ada ayam dan jamur real yang fungsinya sebagai sumber tambahan protein bagi manusia. Tentu lebih bermanfaat bukan?

Sekarang tugas kita adalah menggunakan kualitas yang kita punya agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Entah di mana pun kita berada seperti di rumah, kantor, kampus, dan tempat lainnya. Setelah itu mulailah kita menaikan kualitas kita, agar semakin banyak orang yang dapat merasakan manfaatnya.

Beruntungnya kita adalah manusia, bukan makanan atau minuman yang sudah dipatok harganya. Misalkan, Indomie Real Meat, mungkin karena harga lebih tinggi jadi tidak semua kalangan bisa menikmatinya (cuma misal, sebenarnya masih murah di bawah 10rb).

Kita dapat memberikan manfaat tersebut secara cuma-cuma, inilah peran kita sebagai makhluk sosial. Ada banyak contoh bukan, bagaimana seorang yang sukses lalu kembali ke kampung untuk membangun kampungnya menjadi lebih baik. Ada juga seorang dokter dan guru, lalu mereka mau datang ke pedalaman untuk menjadi tenaga medis dan pengajar sukarela di sana. Ini akan sangat bermanfaat sekali bagi orang pedalaman.

Pengusaha pun sama, ia dapat membuka lowongan pekerjaan, sehingga bermanfaat mengurangi pengangguran. Begitu juga dengan para ilmuwan, mereka menciptakan banyak penemuan yang akhirnya dapat kita rasakan manfaatnya hingga saat ini. Contohnya ada banyak sekali, Anda kini dapat mencari sendiri contoh lainnya.

Nah, ayo kita jadikan diri kita sebagai orang yang bermanfaat. Mungkin bisa dimulai dengan membantu orang tua, keluarga, tetangga dan teman. Setelah itu tetap asah kualitas diri kita, agar dapat semakin bermanfaat bagi orang lain dan bahkan bukan tidak mungkin kita dapat bermanfaat bagi negara dan dunia.

Cukup sekian, saya mau melanjutkan minum kopinya... hehe


Secangkir Toraja Coffee (sumber : Smartphone Pribadi)

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
comments

44 komentar:

  1. Iya juga ya. Kualitas diri kita kebanyakan dilihat oleh orang lain, jadi tugas kita ya mengasah diri menjadi lebih bermanfaat untuk banyak orang.

    Semoga kita menjadi orang yang lebih baik lagi setiap harinya ya. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin, smoga setiap harinya menjadi bertambah kualiatasnya dan makin bermanfaat bagi orang lain :)

      Hapus
  2. Idem sama postingannya. Cuman cit, jujur aja yah, kalau yang ibarat kualitas dari kopi, aku setuju soalnya kopi berkualitas rasanya g pernah bohong. Tapi hm.. Yang itu tuh indomie real meat. Kalau aku malah menilai ini mie kalau diibaratkan manusia, cuman cantik rupa tapi busuk di dalam. Sadist banget ya. Hahahaha
    Mungkin kalau dari segi isi dll si indomie real meat ini wah banget karena komplit, tapi dari segi rasa, oh no.. Nol besar, berasa omong doang. Seni makanan kan g cuman dari penyajian, tapi bagaimana rasa yang bener2 bisa menggugah selera, dan indomie real meat belum punya "rasa" makanan yang khas.
    Jadi kalau aku, mungkin mengibaratkan diri dengan mie real meat tadi, belum cocok, karena ada faktor tampilan dan rasa yang harus dipenuhi. Ini mie cuman punya 1 seninya, yaitu tampilan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha, ini Pipit malah ngomentarin makanannya

      Super bgt komennya, ahli mie instan ni spertinya, hehe aku makan Indomie nya serasa makan mie ayam dan enak-enak aja kok rasanya

      Okay, brarti ini kesimpulan Pipit. Kopi kualitas ada di rasa dan indomie real meat cm ada di tampilan :D

      Hapus
  3. sungguh postingan yang penuh dengan filsatat tentang kebendaan sodara Citra. hahaha

    keren bang..

    gue yakin gue akan bermanfaat untuk orang lain karena gue tahu kualitas gue sepeti aapa.. #songong haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh, filsafat kebendaan.. hahaha

      Ya pasti bermanfaat kok, tinggal gunakan apa yang kita punya, seperti tenaga, pikiran, harta, dll untuk membantu sesama :)

      Hapus
  4. Berasa lagi baca petuah bagi kehidupan, sangat berguna mas citra.

    Kita dinilai oleh orang lain, semua pasti memiliki kualitas hanya tingkatannya saja yang berbeda, semua pasti bakal berguna cuma tempatnya aja yang berbeda. Keken ih, sederhana tapi ngena apalagi analoginya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ayo lakukan banyak hal yang dapat bermanfaat untuk orang lain. Nanti, dengan begitu lama-lama kualitas kita juga akan bertambah dan semakin tambah bermanfaat :D

      Hapus
  5. bijak banget mas postingannya hehehe.

    Bener banget deh. Setiap manusia kan sudah dibekali akal oleh PenciptaNya. Tinggal bagaimana ia menggunakan akal itu untuk bisa meningkatkan kualitas dirinya.

    Tapi aku setuju juga sama komennya Mba Pipit di atas. Untuk meningkatkan kualitas diri, jangan sampai kita hanya sibuk memperbaiki penampilan luar saja. Tapi "dalemnya" nol besar.

    Semoga kita bisa menjadi sebaik baik manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dapat bermanfaat :)

      Hehe, betul sekali dan jangan cm ditingkatin doank, tapi kualitas tsb juga harus digunakan untuk membantu sesama.

      Nah iya,
      eh untung ga bawa2 Indomie Real Meat nya lagi :D

      Aamiin, ya robbal 'alamin :)

      Hapus
  6. " Orang lainlah yang selama ini menilai kita, apakah kita cukup bernilai atau tidak bagi orang lain."

    Setuju dengan kalimat tersebut. Memang Tuhan yang lebih pantas menilai kita, tapi ingatlah, penilaian orang lain bisa jadi adalah cara Tuhan menilai diri kita melalui salah satu makhluk ciptaanNya.

    Semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain dan lingkungan. Amiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuhan memang lebih tahu nilai kualitas kita, tapi kan kita tahu kalau Tuhan tidak membutuhkan bantuan kita :)

      Yang butuh bantuan kita adalah ya makhluk yang tinggal di dunia ini, terutama ya sesama manusia. Semoga kita semakin hari semakin menjadi manfaat bagi dunia.. Aamiin

      Hapus
  7. Setuju, semakin tinggi kualitas kita, maka kita akan semakin dibutuhkan orang banyak, dan ga perlu punya kualitas yang tinggi-tinggi amat biar bisa bermanfaat bagi orang lain. contohnya, anak SMP yang ngajarin anak SD berhitung, ga perlu jadi sarjana pendidikan dulu buat ngajarin anak SD berhitung, yang penting mau berbagi dan membantu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini, bener sekali bro :D
      Jadi entah seberapa kecil atau besar kualitas kita, tetap kita dapat bermanfaat kok. Itu anak SMP saja bisa ngajarin anak SD, bukankah itu bermanfaat? :)

      Hapus
  8. Bisa-bisanya, ya. Mengkaitkan kopi dan mie instan jadi obrolan yang ketje gini, nih. Gue juga terkadang merasa gitu mas. Soalnya, hidup yg gak punya kualitas tinggi, kebanyakan ya.. begitulah. jadi, seakan gue ngerasa gak bisa bener-bener punya level.

    Tapi, memang bener seperti mas Citra bilang. Kalo setiap orang tetep punya kualitas masing-masing. Hanya saja, tingkatnya yg berbeda. Kalo gue sih, biasanya menyesuaikan dgn kemampuan dan pengalaman dibidang tersebut. Kalo memang gue gak tau, gue bilang gak tau dan besoknya gue belajar.

    Kalo tau, akan gue bagikan apa yg gue tau. Gitu, sih. Karena setelah mengerti dan gak mau berbagi, buat gue agak gimana.. gitu. Ada yg lengket di badan aja. Gak plong rasanya. Makash ilmunya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Merasa tidak memiliki kualitas tinggi itu jgn dijadikan alasan untuk dapat membantu sesama :)

      karena seberapa pun level kita, tetap masih bisa bermanfaat kok. Kalau masalah naik tingkat itu nanti seiring dgn berjalannya waktu. Intinya kita mau atau tidak untuk berbagi

      sip om, kalau udah punya kemauan untuk berbagi. hehe perasaan itulah yang sebaiknya dimiliki semua org

      Hapus
  9. Asik nih, kopi san mi instan bisa dikembangkan menjadi tulisan yang penuh akan makna dan petuah. Saya setuju banget sama poatingannya. Sebagai manusia kita emang harus meningkatkan kualotas diri kita agar berguna bagi banyak orang. Keren, mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oke,
      ayo semangat untuk belajar dan berkembang :D

      Hapus
  10. Wah kopinya sedap banget bang itu, keknya enak.

    Keren juga sih, awalnya saya barusan cuman fokus ke makanannya, eh, gak tau kalo ngasih motivasi se keren ini.

    Keren lah, kualitas diri emang penting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, doyan kopi kah?

      ya penting, tp lebih penting lagi adalah kemauan untuk dpt bermanfaat bagi orang lain :)

      Hapus
  11. Setiap orang memang memiliki kualitas diri yang berbeda , dan tidak ada yang sama.Kualitas diri yang baik jauh lebih bagus ketimbang kualitas diri yang "biasa"aja.Tingakatan kualitas juga beda beda, kadang ada yang begini ada juga yang begitu ... ya pokoknya gak mungkin sama.

    By the way , karena ngomongin kopi,gue jadi mau nyoba.Karena gue pecinta kopi.Kelihatannya kopi nya enak juga ya ? jadi mau beli tapi gak tau dimana ? .

    "

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iya, tapi intinya mau kecil atau besar kualitas yang kita punya. Kita harus tetap menjadi org yang mau berbagi manfaat :D

      itu beli di Carrefour, sepertinya di tokopedia jg ada :D

      Hapus
  12. Duhh, BAng Citra ini udah jago banget yaa kalau bikin tulisan motivasi. idenya pun bisa datang dari mie instan dan kopi hehe.

    Ternyata filosofi mie instan dan kopi yagn mahal itu bisa disamakan dengan diri kita yaa. bener banget, semakin tinggi nilai dalam diri seseorang, maka semakin mahal pula orang tersebut.

    Btw, aku jadi pengen minum kopi Toraja juga hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup semakin mahal dan semakin bermanfaat bagi orang lain. karena kalau selama kita hidup ini tdk dpt memberikan manfaat apa-apa bagi sesama, ya brarti kita cm beban aja donk bagi dunia..

      hehe, doyan kopi emg Zam?

      Hapus
  13. Gokil ini tulisan yang sangat memotivasi gue buat meningkatkan kualitas diri di masa depan. Trima kasih bro :)

    Btw gue belum nyoba dua produk yang dijadiin contoh itu sih hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga semakin memotivasi agar dapat memberikan banyak manfaat :)

      haha silakan bro,
      tinggal dicoba :D

      Hapus
  14. gue gagal fokus pak liat kopi haha... itu kopi nya udah di grid atau gimana?
    *asli gue gagal fokus*

    ngomongin soal kopi dan kualitas, menurut gue kualitas seseorang bisa dilihat juga dari kopi yang dia minum hhe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya udh bentuk serbuk itu bang, tp yg kasar :D

      hehe bgitu yah? padahal saya seringnya minum kopi biasa yang beredar di pasaran, hihi

      Hapus
  15. Wah keren nih tulisannya bang :)
    Lihat bungkus mie nya bikin lavar.

    Sembari baca mengkhayal makan mie, minumnya kopi.. haha

    Btw, salah kenal ya..
    di tunggu bertamunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwk, malah lapar :D

      okay bang, salam kenal jga
      skrng mampir dh, hehe

      Hapus
  16. Makanan dan minuman semakin berkualitas semakin mahal.

    Manusia yang berkualitas itu yang bermanfaat bagi orang lain.. bermanfaat bukan berarti dimanfaatkan oleh orang lain kan?! Hiks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. seringnya si begitu, seperti daging sapi yang tentu lebih mahal daripada daging ayam :)

      hehe ini arum malah baper
      dimanfaatkan itu berarti kualitas kepekaan kita blm cukup baik untuk mengetahui bahwa kita sedang dimanfaatkan... tp santai aja kalau sedang dimanfaatkan, karena Tuhan Maha Melihat kok :)

      Hapus
  17. Entah harus bilang apa setelah baca postingan ini. One word.

    Cool! :D

    Selama baca asyik sendiri merhatiin beberapa frase yang bermakna, thanks buat artikelnya, it's really inspire people to improve their competency.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga dapat bermanfaat bro dan menggugah hati untuk dapat terus bermanfaat bagi orang lain :)

      Hapus
  18. argh baru pertama kali mampir sini dan dibikin termotivasiiiii :'D
    btw dua poduk itu belum aku cicip. tapi mie-nya aja. nggak suka kopi hehehe

    semua orang punya kualitas tapi tingkatannya pasti beda-beda. semakin tinggi, semakin dibutuhin banyak orang karena dianggap mampu oleh mereka yang membutuhkan.
    mmm, jadi ikut merenung. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh ternyata ga suka kopi, haha

      iya, semakin tinggi kualitas maka akan semakin dibutuhkan banyak orang. Klo sudah tinggi yang penting jgn pelit2 untuk berbagi :)

      Hapus
  19. kaga bisa dipungkiri, masyarakat kita tetap menilai apa-apa itu dari bungkusnya saja, sbg mana mereka menilai orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha sebenarnya ini artikelnya tidak menjurus ke masalah itu lo gan :D

      Hapus
  20. Kalo kopi toraja itu rasanya seperti apa ya...
    yang membedakan apa ya dengan kopi2 biasa...

    Lain kali perlu mencobanya... kalo real meat sih.. sepertinya gak perlu ada bahasan lain deh selain diatas...

    Kalo aku sih yess

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe saya belum berani menjelaskan rasa dari kopi, karena bukan pakar kopi... yang pasti itu rasanya berbeda. Bahkan antara sesama kopi biasa yg berbeda merek saja rasa udh beda :D

      yg aku mau tanya, kenapa yg dibahas malah makanan dan minuman nya? hehe

      Hapus
  21. THanks for your sharing, i'm very interested for your content. your post is cool

    BalasHapus
  22. nice topic, i'm interested for your info. Thanks for sharing, success for you :)

    BalasHapus
  23. keren banget infonya mas, lanjutkan semoga sukses selalu mas

    BalasHapus
  24. nice info. please visit back to my blog :)

    BalasHapus