Gema di Lembah Kehidupan

By | Senin, Februari 23, 2015 59 comments


Suatu hari sepasang kakak beradik sedang mendaki gunung melewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudra. Bersama teman berpetualang. #Plak nampar diri sendiri. (Sekilas, jadi ingat lirik opening Ninja Hatori)
******
Alkisah, sepasang kakak beradik mendaki gunung untuk berkunjung ke rumah neneknya yang berada di balik gunung. Sang adik yang baru pertama kali mendaki gunung pun merasa gembira. Terlihat dari caranya berlari kesana kemari, loncat-loncatan, bahkan kemudian ia pun bernyanyi senang. Sang kakak pun hanya dapat tersenyum kecil melihat tingkah laku adiknya.

Kemudian sampailah mereka di sebuah lembah. Sebuah lembah yang konon sangat angker dan menyeramkan. Banyak cerita seram beredar di desa mereka tentang lembah tersebut. Cerita yang hanya diceritakan kepada anak-anak kecil seusia sang adik. Tujuannya tentu agar mereka tidak bermain-main di lembah tersebut tanpa pengawasan orang dewasa. Ya, cerita itu hanya untuk menakut-nakuti mereka.

Sepertinya cerita seram tersebut tidak berpengaruh untuk sang adik. Sang adik masih saja berlari-larian dan bernyanyi gembira. Mungkin sang adik merasa aman, karena sang kakak sedang bersamanya kini. Seorang kakak yang selalu menemaninya dan membantunya di kala sang adik sedang ada masalah.

"Kakaaaak....." Teriak gembira sang adik seraya melambaikan tangan kearah kakaknya yang jauh tertinggal.

"Kakaaaak....." Tiba-tiba suara dengan ucapan yang sama dengan adik muncul jauh dari dalam lembah. Sang adik kaget. Dia bingung karena ada yang ikut-ikutan memanggil kakaknya. Ia pun kembali berteriak.

"Siapa kamu...?"  tanya sang adik.
"Siapa kamu...?" Suara itu kembali meniru ucapannya.

"Ngapain kamu ngikutin aku?"
"Ngapain kamu ngikutin aku?" Balas suara dari dalam lembah.

"Gila kamu!" Teriak marah sang adik.
"Gila kamu!" Suara itu membalas. Membuat sang adik geram dibuatnya. Baru pertama kali ada orang yang menyebutnya dengan kata gila.

Sang adik pun merasa dipermainkan. Dia tidak habis pikir, kenapa yang ia teriakan dibalas dengan teriakan yang sama. Tanpa pikir panjang adik pun kembali berteriak, "Mahoo kamu....!"

Dan benar saja, suara itu pun muncul kembali. Persis seperti yang sang adik ucapkan, "Mahoo kamu....!" Sakit hatinya sang adik karena dikatain maho oleh suara dari dalam lembah.

Akhirnya tiba sang kakak di tempat sang adik berdiri. Ditatap wajah sang adik yang kelihatan bingung dan mulai terlihat matanya yang berkaca-kaca. Sang adik membalas tatapan kakaknya dan bertanya. "Kak, itu tadi siapa? Kenapa semua yang kuteriakan diikutin. Kan bete kak." Tanya sang adik.

Sang kakak pun tersenyum dan berkata, "Coba dengarkan dik." Sang adik pun mengangguk dan memasang telinganya baik-baik karena penasaran dengan apa yang kakaknya katakan. "Kamu hebat....!" Tiba-tiba kakak berteriak ke arah dalam lembah. Sang ade pun tertegun heran dengan tingkah kakaknya.

"Kamu hebat....!" Terdengar suara yang meniru teriakan sang kakak. Sang adik kembali bingung karena belum mendapat jawaban pasti. Kini suara aneh itu malah meniru kakaknya. Sang adik merasa takut. Teringatlah cerita-cerita seram yang pernah ia dengar tentang lembah ini. Namun kali ini berbeda, suara tersebut ikut memuji kakaknya dengan kata hebat.

"Kamu ganteng dan keren...!" Teriakan sang kakak berikutnya mengagetkan adik. Karena teriakan kakak kali ini jauh lebih keras dan terkesan narsis. Ia pun yakin teriakan kakaknya pun akan kembali ditiru oleh seseorang dari dalam lembah. Dan benar saja seperti teriakan-teriakan sebelumnya yang selalu ditiru sama persis. "Kamu ganteng dan keren...!"

Sang adik tetap merasa heran. Meski heran, sang adik kini mulai tersenyum mendengar suara yang memuji kakaknya. Kakak pun ikut tersenyum, dia sadar kalau ini adalah pertama kalinya sang adik mendaki gunung dan melewati lembah. Kemudian kakak pun menjelaskan kepada adik.

"Nah itu dek yang dinamakan pantulan suara. Kalau di lembah seperti inilah apabila kita berteriak, maka suara kita akan dipantulkan. Orang-orang biasa menyebutnya dengan gema."

Sang  kakak kembali menjelaskan. "Sama seperti kehidupan kita ini. Apa yang kita lontarkan, nah itu yang kita dapat. Apabila kita memberi kebaikan, kita akan mendapatkan kebaikan pula. Begitu pula sebaliknya. Namun tidak hanya terbatas pada perbuatan saja. Segala yang kita pikirkan dan ucapkan juga akan kembali kepada kita. Untuk itu kita harus selalu berpikir, mengucapkan, dan melakukan hal-hal baik. Agar apa yang akan kembali kepada kita adalah hal-hal baik."

Sang adik pun mengangguk paham. Kemudian kakak beradik tersebut kembali melanjutkan perjalanan mereka.

******

Kisah di atas menceritakan tentang ilustrasi kehidupan yang kini kita jalani. Hidup kita adalah cerminan dari apa yang kita pikiran, kita ucapkan, dan kita lakukan. Apabila yang kita pikiran, ucapkan, dan lakukan adalah hal baik. Maka kita akan menggemakan hal baik dan itu pun akan mempengaruhi lingkungan sekitar. Orang lain pun merasa senang dengan kehadiran kita, karena kita membawa aura yang positif.

Maka, baik buruknya kehidupan seseorang adalah berasal dari dirinya sendiri. Apakah selama ini ia berpikir, mengucap, dan melakukan hal buruk atau hal baik. Mungkin ini yang orang sebut dengan karma. Dalam Islam pun diajarkan untuk selalu berbuat baik. Karena kita tahu bahwa selalu ada balasan atas apa yang telah kita perbuat di dunia. Jika kita tidak mendapatkan balasan di dunia, maka kita akan mendapat balasan kelak di akhirat.


Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
comments

59 komentar:

  1. Betul mas...istilahnya what you do is what you get...seperti ketika tangan menunjuk maka 4 nya menunjuk diri sendiri.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, kalau mau nunjuk jgn pakai 1 jari doank, karna 4 jari nya nunjuk ke kita sndiri. Kalau nunjuk pake 5 jari sekalian :-)

      Hapus
  2. Ahahaha si adik lucu banget sih. Eh ini contoh simple yang ngena banget yak. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Si adik lucunya kenapa emg? haha
      Yup, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  3. Suka sama ceritanya, amanah yang mau disampaikan bisa diambil secara jelas, bahkan tanpa perlu dijelaskan di akhir tulisan :)
    Ini tulisan gaya baru kamu? Emangnya yang gaya lama gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah kalau begitu, hehe
      semoga bermanfaat :)

      Gaya baru tu karena ini postingan nya berbentuk cerita. Tidak seperti sebelumnya yang langsung to the point :p

      Hapus
    2. Apapun gaya tulisannya, selama itu unik dan asik, pasti seru dibaca, kok :)

      Hapus
    3. Begitu yah, hehe oke dah. Sekarang belajar menulis yang unik dan asik :)

      Hapus
  4. nyo..nyo..nyo..
    Kak pradip suka ninja hattori juga..:)
    jadi kita mesti hatihati dalam berucap dan berpikir ya Kak?
    iii takuut.. ucapan yg kita lontarkan kurang lebihnya berdampak juga terhadapa kita ya Kak?
    benar apa tidak inih Kak!:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya suka, dulu sering nnton pas masih tayang di RCTI :)
      yap, tentu saja bro harus berhati-hati dlm berpikir, berucap, dan berkelakuan
      Sebab efeknya akan kembali kepada diri sendiri

      Hapus
  5. Balasan
    1. Haha, jadi ingat judul sinetron 7 manusia harimau.

      Betul mas, makanya kita harus berhati hati saat berbicara

      Hapus
  6. benarkah cara para orang tua untuk mengingatkan untuk generasi dengan cerita kebohongan,,, :-?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak benar, tapi begitulah tradisi jaman dahulu. Menakut-nakuti agar anak tidak nakal :)

      Hapus
  7. Ini ilustrasinya sukak! :D
    Cerdas banget bikin ceritanya.
    Pesannya juga sampai.
    Intinya, teruslah berbuat baik. Ucapkan hal-hal yang baik. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih :D
      Semoga dapat membantu agar selalu berbuat baik.. Aamin :)

      Hapus
  8. cukup jadi pelajaran ya berharga bagi kita semua ya mas :D

    BalasHapus
  9. bener juga sih. aku juga meyakin apapun yang kita pikirkan dan lakukan bakal kembali lagi ke diri kita. itu hanya masalah waktu.

    keren nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya bos hati-hati dgn yg kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan. Balim ke kita sndiri soal nya :(

      Hehe makasih :D

      Hapus
  10. @citra pradipta.......cerita yang sangat bagus dan mencerahkan.....terimakasih sudah berbagi.......salam kaizen :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas kaizen. Semoga bermanfaat :D

      Salam berbagi :)

      Hapus
  11. ane malah ikutan nyanyi pas baca kalimat yang di kutip. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha malah nyanyi km bro. Dibaca donk bawahnya :P

      Hapus
  12. jangan-jangan memang ada penunggunya tuh di dalam lembah, yang suka meniru gaya dan suara orang yang berteriak, hehe.!! padahal karena pantulan yang disebut GEMA ya mas, syukur si adek gak sampai merinding sampai menggigil karena ketakutan.

    tetapi setuju dengan kisah diatas, bahwa semua itu merupakan cermin kehidupan, atas apa yang kita perbuat, maka baik itu buruk dan baik akan kita terima sesuai apa yang kita lakukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk mungkin saja benar ada penunggunya :D
      Tenang saja si adek itu pemberani, dia kan cita-citanya mau jadi polisi.

      Yup, makanya kita harus berhati-hari :)

      Hapus
  13. Sudah lama aku tak mendengra gema atau gaung, krn sudah lam tak ketempat yang sunyi..Loh..? hehehe.... Suka ceritanya, sederhana tapi ada nilainya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, sudah lama bgt ga denger gema. Mungkin harus ke tempat lembah2 seperti pada cerita di atas. Agar bisa mendengar gema :D

      Makasih, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  14. siiip. lanjutkan menulisnya mas, bikin ketagihan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget bikin ketagihan nih :D
      Cuma rasanya harus ditahan, soalnya banyak kegiatan yg harus diselesaikan. Terutama skripsi. hehe

      Hapus
  15. Keren (h)
    Ceritanya bermakna banget

    BalasHapus
  16. Suka deh sama ucapan terakhir si Kakak. Hehehe. Kalo ditambagin teori fisika yang ngejelasin lebih lengkap soal gema, kayaknya lebih oke. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya si Kakak itu sekolahnya di jurusan IPS, jadi ga bisa menjelaskan dengn fisika.
      *ngeles :3

      Hapus
  17. inspiratif banget bro, makasih ya..! :))

    BalasHapus
  18. Cerita yang sangat sederhana tetapi memiliki makna yang sangat dalam. :)
    Sungguh menarik bagaimana anda membawakannya dalam cerita ini.
    Teruskan untuk berbagi.

    Salam Blogwalking ^^,
    Sanz Yu (Sanzeda Fay Lupe)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, terima kasih :)
      smoga bermanfaat, hehe

      salam blogwalking ^^

      Hapus
  19. bener, apa yg kita tanam, itulah yang akan kita tuai!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk itu yang ditanam haruslah yang baik-baik :D

      Hapus
  20. Ah ngena banget nih.. Apa yang kita ucapkan, ya begitu lah kita.. Tanpa kita sadari.. :'

    Makasih buat postingannya ya. So inspiring :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, kita sering tidak menyadarinya
      Sama-sama, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  21. Dua jempol. Kisah hikmah yang mudah, bermakna lagi mengena. Salam kenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga,
      terima kasih, semoga bermanfaat :)

      Hapus
  22. Sempat mikir kalo ini ceritanya hatori sama adiknya shinzo jalan2, shishimaru gak diajak juga nih?

    Benar juga apa yang kita perbuat, kita pikirkan dan kita ucapkan suatu saat pasti kembali ke diri kita sendiri. Jadi mesti sering2 berbuat baik ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk ini kenapa mikir nya nyampe ke situ bro?

      Harus donk,
      kita harus selalu berbuat baik, pikiran dan ucapan juga harus selalu baik :D

      Hapus
  23. Sesuatu yang sederhana, ternyata bisa diilustrasikan untuk pesan moral yang luar biasa. Sampai-sampai saya tersenyum lepas ketika membaca seorang yang sedang menjelaskan sebuah makna kehidupan kepada sang adik. Tulisannya memang benar-benar inspiratif, Mas. Lanjutkan tebar inspirasinya, ya. Hehe.

    BalasHapus
  24. yup setuju banget hidup adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan. apa yang kita perbuat ya itulah yang akan kita dapatkan. keren tulisannya, aku jadi terfikir untuk menulis sesuatu.

    BalasHapus
  25. wajtu kecil jug gue sempat bingung dengan gema atau pantulan suara setiap kali gue teriak kenapa selalu ada yang ngikutinya,setelah gue dikasih tau dan jelasin sama orang tua gue akhirny gue mengerti juga.

    iya bener setuju banget,apa yang kita lakukan di dunia ini pasti semuanya akan berbalik juga kepada kita.
    gue salut sama lo,tulisan-tulisan lo selelu inspiratip dan memilki nilai-nilai kehidupan yang tersimpan.
    lanjutkan nulisnya ya,gue tunggu yang berikutnya.

    BalasHapus
  26. Inspirasi yang pekat akan cerminan diri. Wah-wah. Gue udah lama gak nulis ginian. Pengen, ah...

    Sejatinya emang bener. Bahwa apa yang kita lakukan, baik atau buruk. Semuanya akan kembali kepada kita. Karena, semua hal yang menjadi cerminan diri adalah bentuk di mana kita bekerja dengan hidup.

    Sederhana ceritanya, tapi maknanya dapet. Keren bro.

    BalasHapus
  27. waah, ternyata postingannya mengarah ke inspirasi, keren-keren.

    yaa, bener sih apa kata lo. analogi cerita diatas juga sesuai dengan maksud yang akan lo sampaikan. dalam hidup memang kita akan mendapat apa yang sudah kita tanam. jika menanam kebaikan, ya kita akan mendapat kebaikan, begitu juga sebaliknya. bahkan kebaikan sebesar biji sawi pun Tuhan sudah berjanji akan membalasnya.

    BalasHapus
  28. pasti ini adiknya udah salah peragulan ya ? sampe ngatain orang maho, untung dia nggak ngatain orang lain jomblo hehehe.. ceritanya singkat tapi inspiratif bro... :D

    BalasHapus
  29. Hidup kita adalah cerminan dari apa yang kita pikiran, kita ucapkan, dan kita lakukan.

    Gue sangat sependapat sama kutipan diatas.
    Salut sama penjabaran yang kamu tuliskan.

    BalasHapus
  30. kekuatan pikiran emang terbukti. karena orang bisa bahagia, happy dan sebagainya karena di pikiran mereka.

    menurut gue sih.. mending kalu mau bikin cerita nggak usah dikasih keterangan lagi. tinggal bikin quote ajah, lebih simple.. hehe daran ajah sih

    BalasHapus
  31. ahaha ses citra bisa dongeng juga :P bagus ceritanya, lanjutkan ses ^3^9 hehe

    BalasHapus